Sabtu, 26 November 2011

BAB 4. PENDEKATAN DAN TEORI PEMBELAJARAN










 



Sebelum melakukan proses pembelajaran, seorang guru menentukan atau memilih pendekatan dan metode yang akan digunakan supaya tujuan pembelajaran yang telah disusun dapat tercapai. Pemilihan pendekatan dan metode  perlu disesuaikan dengan tujuan pembelajaran dan karakteristik materi yang akan dibahas. Sesungguhnya tidak pernah satu pendekatan dan satu metode dapat digunakan untuk membahas semua materi. Dengan kata lain, dalam pembelajaran penting digunakan berbagai pendekatan dan metode, atau gunakanlah pendekatan dan metode yang bervariasi, jangan menggunakan pendekatan dan metode yang menoton. Oleh karena itu, para  guru harus menguasi berbagai pendekatan dan metode pembelajaran. Sesungguhnya banyak jenis pendekatan dan metode dalam pembelajaran, namun pada pokok bahasan ini tidak semuanya yang dapat dibahas, karena berbagai keterbatasan. Bahasan diarahkan untuk pendekatan dan metode yang sering digunakan dalm pembelajaran di Indonesia.
Setelah mempelajari pokok bahasan ini diharapkan Anda dapat:
1)      menjelaskan pengertian pendekatan pembelajaran,
2)      menjelaskan pengertian metode pembelajaran,
3)      menjelaskan hubungan antara pendekatan dan metode pembelajaran,
4)      menjelaskan kelebihan dan kekurangan masing-masing metode pembelajaran,
5)      menjelaskan pengertian macam-mcam pendekatan pembelajaran,
6)      menjelaskan pengertian mcam-macam metode pembelajaran,
7)      merancang model pembelajaran dengan menggunakan salah satu pendekatan,
8)      merancang model pembelajaran dengan menggunakan dua atau lebih pendekatan pembelajaran,
9)      merancang model pembelajaran yang merupakan kombinasi pendekatan dengan metode pembelajaran.

1.       Pengertian Pendekatan dan Metode
Pendekatan berbeda dengan metode dalam proses pembelajaran. Pendekatan (approach) lebih menekankan pada  strategi dalam perencanaan, sedangkan metode (method) lebih menekankann pada  teknik pelaksanaannya (Rustaman, dkk. 2003). Pendekatan bersifat aksiomatis yang menyatakan pendirian, filosofis, dan keyakinan yang berkaitan dengan serangkaian asumsi. Sementara, metode lebih bersifat prosedural atau proses yang teratur. Dapat juga dikatakan bahwa metode merupakan jabaran dari pendekatan (Nurgiyantoro, 1985; Susilo, 1997). Suatu pendekatan yang direncanakan untuk satu pembelajaran mungkin dapat digunakan beberapa metode. Misalnya kita membahas topik pencemaran lingkungan, salah satu pendekatan yang mungkin dapat digunakan adalah Science Technology and Society (STS) atau Sains Teknologi dan Masyarakat (STM). Dalam melaksanakan pendekatan ini dapat saja digunakan berbagai metode seperti ceramah, eksperimen, tanya jawab, diskusi dan sebagainya.
Tapi, memang sulit membedakan antara pendekatan dan metode, karena keduanya berbeda sangat tipis. Malahan sering pula orang atau penulis tidak membedakan antara keduanya, sehingga dalam penggunaannya sering dipertukarkan. Misalnya, pendekatan ikuiri sering juga disebut metode inkuiri, pendekatan problem solving sering pula disebut metode problem solving. Sesungguhnya tidak perlu diperdebatkan perbedaan kedua istilah ini, yang penting supaya tidak membingungkan silahkan Anda ikuti literatur yang Anda rujuk, terutama literatur yang dianggap sudah standar.

2.       Beberapa Pendekatan Pembelajaran
            Pendekatan induktif
Pendekatan induktif merupakan pendekatan pembelajaran yang dimulai dari yang khusus sampai atau menuju pada yang umum, atau mulai dari contoh-contoh sampai pada suatu kesimpulan. Misalnya: hewan akan mati, manusia akan mati, tumbuhan akan mati, malaikat akan mati, jin akan mati, iblis akan mati. Maka kesimpulannya adalah: setiap makhluk hidup akan mati (karena semua yang disebutkan di atas adalah makhluk hidup).

            Pendekatan deduktif
Pendekatan deduktif merupakan kebalikan dari pendekatan induktif, yaitu pendekatan pembelajaran yang dimulai dari yang umum sampai atau menuju pada yang khusus, atau dimulai dari kesimpulan sampai kepada contoh-contoh. Misal kesimpulannya adalah: setiap logam bila dipanaskan akan memuai.  Maka uraiannya adalah: besi bila dipanaskan akan memuai, temabaga bila dipanaskan akan memuai, emas bila dipanaskan akan memuai, perak bila dipanaskan akan memuai, seng bila dipanaskan akan memuai, dan seterusnya (karena semua yang disebutkan di atas adalah termasuk logam).

            Pendekatan inkuiri
Pendekatan inkuiri merupakan pendekatan pembelajaran yang mengarahkan anak didik untuk menemukan pengetahuan, ide, dan informasi melalui usaha sendiri. Kata kunci pendekatan inkuiri adalah menemukan sendiri. Pendekatan inkuiri mempunyai tahapan kerja, sebagaimana para ahli menggunakan pendekatan ini dalam melakukan eksperimen. Menurut Seifer, (1991) inkuiri merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang menggunakan tahapan secara berurut (order). Di lain pihak, Callahan et al. (1994) mendefinisikan inkuiri sebagai suatu cara yang kreatif dan open-ended dalam pencarian  pengetahuan (as an open-ended and creative way of seeking knowledge).  
Tahapan kerja inkuiri sering juga dikenal dengan langkah-langkah metode ilmiah, yaitu: (1) melakukan observasi (observation), (2) mengajukan pertanyaan (questioning), (3) mengajukan jawaban sementara (hypothesis), (4) mengumpulkan data (data gathering), (5) menarik kesimpulan (conclussion).

            Pendekatan diskoveri
Callahan et al. (1994)  mengartikan  diskoveri sebagai hasil pencarian pengetahuan (discovery can be thought of as tht result of seeking knowledge). Dipihak lain,  Seifer (1991) mengemukakan bahwa diskoveri merupakan suatu pendekatan pembelajaran atau pendidikan yang menuntut anak didik menemukan ide-ide dan informasi melalui usaha belajar sendiri dari materi yang telah diberikan kepada mereka.
Sulit memang membedakan scara tajam antara inkuiri dan diskoveri, dan sulit pula dipisahkan satu sama lainnya, sehingga sering orang menggandeng kedua istilah ini dengan sebutan pendekatan inkuiri-diskoveri.


            Pendekatan lingkungan
Pendekatan lingkunang merupakan pendekatan yang mengarahkan anak didik memanfaatkan lingkungan sebaai sumber belajar. Lingkungan artinya segala sesuatu yang berada di luar kita, baik berupa lingkungan hayati maupun berupa lingkungan non hayati. Dalam pelaksanaan pendekatan lingkungan umumnya anak didik dibawa belajar keluar kelas. Tapi, tidaklah  mustahil dalam kondisi tertentu atau untuk mempelajari objek tertentu dapat dilaksanakan membawa lingkungan ke dalam kelas atau ke dalam laboratorium. Misalnya untuk mempelajari hewan atau tumbuhan tertentu dapat ditugaskan anak didik mencari dan membawanya ke kelas atau ke laboratorium. Kecuali kita ingin mengamati tingkah laku hewan atau kharakteristik tumbuhan tertentu yang hidup secara alami atau pada kondisi tertentu, bila dibawa akan dapat mengubah perilaku alaminya, hal semacam ini tidak memungkinkan objek dibawa ke kelas atau labor. Begitu juga jika hewan  atau tumbuhan itu besar dan membahayakan juga tidak mungkin objek dibawa ke lokal     atau ke laboratorium.

            Pendekatan konsep
Pendekatan konsep merupakan pendekatan yang mengarahkan anak didik untuk  menguasi konsep secara benar. Pendekatan ini sangat penting untuk menghindari anak didik salah konsep (misconception). Materi biologi sangat kaya dengan  konsep. Oleh karena itu, pendekatan konsep ini boleh dikatakan merupakan suatu keharusan dalam pembelajarana biologi.
Menurut  Van Cleaf (1991) konsep merupakan suatu organisasi mental dan kategori-kategori, pemikiran atau gagasan.  Konsep sebagai kategori-kategori  mencakup: benda (objects), peristiwa (events) orang (peoples), ide (ideas) dan simbol (simbols). Menurut Kolesnik (1976) sebuah konsep tidaklah sama dengan sebuah kata.  Kata merupakan simbol dari sebuah konsep atau cara mengekspresikan konsep. Konsep pada hakekatnya adalah ide atau suatu pemahaman  terhadap sesuatu atau generalisasi.

            Pendekatan proses
Pendekatan proses merupakan pendekatan yang berorientasi kepada proses bukan kepada hasil.  Pada pendekatan ini anak didik diharapkan benar-benar menguasai proses. Misalnya anak didik harus menguasai bagaimana terjadinya proses pencernaan makanan mulai dari mulut sampai ke anus, bagaimana terjadinya proses pernafasan, bagaimana terjadinya proses fotosintesis, bagaimana terjadinya proses respirasi, bagaimana terjadinya proses fertilisasi, dan sebaginya. Pendekatan proses penting untuk melatih daya pikir atau mengembangkan kemampuan berpikir,  dan melatih psikomotor anak didik. Dalam pendekatan proses, anak didik  tidak hanya memahami proses tetapi juga dapat mengilustrasikan atau memodelkan dan bahkan melakukan percobaan.
Bila anak didik sudah dapat melakukan proses suatu percobaan dengan baik dan benar diasumsikan akan dapat menemukan hasil yang tepat..  Untuk evaluasi pembelajaran yang dinilai adalah  proses, yang mencakup: kebenaran cara kerja ketelitian, keakuratan, keuletan dalam bekerja dan sebaginya.

            Pendekatan terpadu 
Pendekatan terpadu merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang bersifat menyeluruh, yang memadukan berbagai disiplin bidang studi atau bidang ilmu yang berpusat atau berfokus pada suatu masalah atau topik atau proyek, baik teoritis maupun praktis.  Pendekatan terpadu bertujuan untuk mengembangkan kompetensi anak didik  secara terintegrasi.
Pendidikan dikatakan bermutu jika dapat mengembangkan komnpetensi  anak didik secara  menyeluruh, baik penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (kognisi), kepribdiannya (afeksi) maupun keterampilannya (psikomotorik) secara optimal. Untuk mencapai ini salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah menerapkan pendekatan terpadu. Pendekatan terpadu tidak hanya memadukan berbagai bidang studi, tetapi juga memadukan berbagai macam pendekatan dan metode pembelajaran, serta memadukan antara teori dan praktek. Contoh masalah dalam Sains yang dapat digunakan pendekatan terpadu adalah masalah pencemaran air.  Maslah pencemaran air ini dapat dibahas secara terpadu dari bidang kajian biologi, kimia dan fisika.

            Pendekatan CBSA
Pendekatan Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) merupakan sutu pendekatan yang menekankan kepada anak didik untuk belajar secara aktif. Jika anak didik belajar aktif bukan berarti pula guru tidak perlu aktif atau bersifat pasif saja. Sesungguhnya baik anak didik maupun guru adalah sama-sama aktif, anak didik aktif belajar sementara guru aktif merancang pembelajaran yang tepat, aktif memfasilitasi  dan membimbing, serta mengevaluasi anak didik sehingga terjadi proses pembelajaran  yang optimal. Jika pembelajaran berjalan optimal maka diprediksi tujuan pembelajaran akan dicapai dan hasil belajar yang diperoleh juga diharapkan optimal. Sebenarnya banyak pendekatan ataupun metode pembelajaran  yang berorientasi pada pendekatan CBSA, di antarnya adalah pendekatan problem solving dan pendekatan inkuiri.

            Pendekatan pemecahan masalah (problem solving)
Pendekatan pemecahan masalah merupakan pendekatan yang mengarahkan atau melatih anak didik  untuk mampu memecahkan masalah dalam bidang ilmu atau bidang studi yang dipelajari.  Masalah adalah perbedaan atau kesenjangan yang terjadi antara yang diinginkan dengan kenyataan yang terjadi sehingga timbul keinginan untuk memecahkannya atau mencarikan solusinya. Suatu masalah muncul bila suatu keadaan tidak dapat dijelaskan atau diramalkan berdasarkan prinsip-prinsip dan teori yang ada.
Keterampilan memecahkan masalah  merupakan ketrampilan dasar yang harus dikembangkan dalam diri setiap anak didik. Keterampilan ini dapat dikembangkan melalui latihan. Anak didik yang terampil dalam memecahkan masalah akan dapat menjadi manusia yang bertanggung jawab,  berkemampuan tinggi,  kreatif dan kritis serta mandiri. Kemampuan memecahkan masalah ini diharapkan dapat ditransfer dalam pemecahan masalah dalam kehidupan sehari-hari, sehingga anak didik tidak mendapat kesulitan dalam menghadapi kehidupanya.
Menurut Unesco (1986) pemecahan masalah merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang dalam pelaksanaannya dapat digunakan berbagai pendekatan atau metode seperti: inkuiri, studi kasus, permainan, bermain peran,  penelitian dan diskusi. Semua metode ini bertolak  dari masalah. Perbedaan antara metode-metode ini hanyalah pada langkah-langkah yang diambil untuk memecahkan masalah
Banyak ragam pola yang dirumuskan oleh para ahli untuk menerapkan pendekatan pemecahan masalah ini, berikut ini kemukakan dua model pola saja:
1. Tahapan  Problem Solving menurut Gagne, (1985):
1)      Penyajian masalah  (presentation of the problem), dapat dinyatakan dalam  pernyataan verbal atau beberapa sarana (means) yang lain.
2)      Mendefinisikan masalah, atau membedakan sifat-sifat esensial (essential features) dari situasi.
3)      Memformulasikan hipotesis, yang dapat diaplikasikan terhadap solusi.
4)      Pengujian hipotesis (verification of the hypotesis), atau dilakukan secara berturut-turut (successive) sampai menemukan jawaban yang mencapai solusi.
 
2.  Tahapan problem solving dalam Biologi Perkembangan Hewan menurut Lufri, (2003):
      1)   Memahami masalah
2)   Merumuskan masalah (dalam bentuk kalimat tanya dan kalimat perintah)
3)      Mengajukan beberapa alternatif pemecahan atau solusi masalah
4)      Memilih  solusi yang paling tepat dan menguraikan rasionalnya sehingga masalah dapat dipecahkan

Contoh:  Problem Solving dalam Biologi Perkembangan Hewan

     1)    Masalah
Semua sel tubuh kita mengandung gen yang mengkode protein hemoglobin, tetapi hanya sel darah merah yang mengandung protein hemoglobin. Sebagai contoh, sel otot dan sel saraf juga mempunyai gen yang mengkode protein hemoglobin, tetapi tidak ditemukan  protein hemoglobin.

    2.)   Rumusan Masalah
           Kenapa protein hemoglobin tidak ditemukan pada sel otot dan sel saraf?

    3)   Beberapa alternatif kemungkinan pemecahan masalah
          Protein hemoglobin tidak ditemukan pada sel saraf dan sel otot mungkin karena:
·           Gen hemoglobin mengalami mutasi pada sel saraf dan sel otot
·            Tidak terdapat asam amino penyusun protein hemoglobin di dalam sel saraf dan sel otot
·            Gen yang mengkode protein hemoglobin tidak aktif (switch of) pada sel saraf dan sel otot

     4)  Pemecahan yang  dianggap paling tepat adalah:
·            Gen yang mengkode protein hemoglobin tidak aktif (switch off) pada sel saraf dan  sel otot


                                                       Penjelasan
 Teori menyatakan bahwa sel-sel yang sudah mengalami diferensiasi dan spesialisasi, gen-gennya  hanya akan mengkode  protein yang dibutuhkan oleh sel-sel/ jaringan/ organ di tempat sel-sel itu berada.  Diketahui bahwa sel saraf dan sel otot merupakan sel-sel yang sudah mengalami diferensiasi dan spesialisasi atau dengan kata lain, gen-gen yang mengkode protein hemoglobin tidak aktif (switch off) pada sel saraf dan sel otot. Oleh karena itu, protein hemoglobin tidak ditemukan pada sel saraf dan sel otot.

2.11  Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL)
CTL  merupakan suatu konsepsi yang membantu guru mengkaitkan konten mata pelajaran dengan situasi dunia nyata dan memotivasi  siswa  membuat hubungan antara pengetahuan dan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga, warganegara, dan tenaga kerja  (U.S. Department of Education and the National School-to-Work Office yang dikutip oleh Blanchard, 2001)
CTL menekankan pada berpikir tingkat tinggi, transfer pengetahuan lintas  disiplin akademik, dan pengumpulan, penganalisisan, pensintesisan  informasi dan data dari berbagai sumber  titik pandang (viewpoints) (University of Washington College of Education. 2001).
Ungkapan yang tepat untuk CTL ini adalah: Bawalah mereka dari dunia mereka ke dunia kita, kemudian hantarkan mereka dari dunia kita ke dunia mereka kembali. Pembelajaran kontekstual mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
1)      Menekankan pada problem solving
2)      Mengenal bahwa  pengajaran dan pembelajaran perlu terjadi  pada berbagai konteks

BAB 3. TEORI DAN PENGALAMAN BELAJAR BIOLOGI








 



Materi atau bahan pelajaran biologi pada dasarnya berupa fakta, konsep, prinsip dan teori. Berikut ini akan dibicarkan satu persatu. Dalam pembelajaran biologi, anak didik harus  diperkenalkan kepada  alam nyata atau dimulai dari kehidupannya. Jangan memulai materi dari hal yang abstrak atau yang sulit ditemukan contohnya dalam kehidupan nyata. Variasikan materi antara fakta, konsep, prinsip, hukum dan teori. Materi pembelajaran harus dirancang menarik dan mudah dipahami anak didik atau dikomunikasikan dengan bahasa yang sederhana.
Pengalaman belajar maksudnya aktivitas yang harus dilalui atau dialami anak didik satuan pembelajaran tertentu. Misalnya untuk membahas suatu topik tertentu pengalaman belajar apa yang harus dilalui anak didik atau kegiatan apa yang harus dilakukan anak didik. Misalnya untuk memahami  perilaku hewan vertebrata, anak dituntut mengamatinya di kebun binatang atau dilingkungan tempat tinggalnya. Demikian juga untuk menentukan kandungan yang terdapat dalam berbagai bahan makanan anak dituntut melakukan praktikum di laboratorium. Jangan mengajarkan biologi dengan berceramah saja, lengkapilah dengan pendekatan dan metode yang lain atau variasikanlah sesuai dengan kondisi materi, kondisi anak didik dan kondisi waktu.
Materi yang disajikan dan pengalaman anak didik yang dirancang guru akan dapat menciptkan persepsi dan image terhadap  anak didik terhadap bidang ilmu itu. Misalnya, selama ini materi biologi cenderung disajikan dalam bentuk istilah-istilah Latin, klasifikasi, anatomi, morfologi yang harus dihafalkan anak. Hal ini telah membangun persepsi dan image anak didik terhadap biologi, yaitu bahwa biologi merupakan ilmu yang menekankan kepada hafalan. Padahal bukanlah demikian, sesungguhnya biologi merupakan ilmu yang memerlukan pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi atau berpikir tingkat tinggi atau belajar bilogi  harus menggunakan pertanyaan apa, kenapa dan bagaimana.
Setelah mempelajari pokok bahasan ini diharapkan Anda dapat:
1)      menjelaskan dengan sebuah contoh makna  fakta,
2)      menjelaskan dengan sebuah contoh makna  konsep,
3)      menjelaskan dengan sebuah contoh makna  prinsip,
4)      menjelaskan dengan sebuah contoh makna  hukum,
5)      menjelaskan dengan sebuah contoh makna  teori,
6)      menjelaskan dengan sebuah contoh makna  pengalaman belajar,
7)      membuktikan dengan sebuah contoh bahwa pengalaman belajar itu sangat penting untuk mengembangkan kompetensi anak didik,
8)      menjelaskan dengan sebuah contoh makna  learning how to learn,
9)      menjelaskan dengan sebuah contoh makna  orientasi pembelajaran dari  teacher center ke arah student center,
10)  membuktikan dengan sebuah contoh bahwa pengalaman belajar untuk teacher center berbeda student center.

1.      Fakta, Konsep, Prinsip, Hukum dan Teori
1.1  Fakta
Fakta merupakan  hal (keadaan, fenomena dan peristiwa) berupa kenyataan atau sesuatu yang benar-benar ada  atau terjadi. Fakta sangat banyak ditemukan di alam ini sebagai objek pengkajian sains. Namun, tidak semua fakta dapat diungkapkan melalui metode ilmiah. Misalnya peristiwa anak-anak sekolah kesurupan atau dikenal dengan kemasukan makhluk halus adalah fakta, tapi tidak bisa diungkap dengan metode ilmiah.
1.2  Konsep
Konsep mempunyai definisi yang bervariasi di dalam literatur psikologi dan pendidikan. Beberapa definisi menekankan pada  sifat-sifat umum dari objek dan peristiwa untuk mengenalnya. Untuk penamaan  konsep digunakan sebuah kata. Konsep dapat terjadi pada tingkat yang berbeda dari keadaan yang umum ke keadaan yang lebih khusus. Konsep dapat diwakili atau digambarkan dengan  hubungan yang hirarki (Sayibo, 1995). Konsep dapat didefinisikan  sebagai organisasi mental dan kategori-kategori pemikiran atau gagasan. Sebagai kategori, konsep memiliki kategori-kategori yang mencakup benda (objecs), peristiwa (events), orang (people), ide-ide (ideas), dan simbol-simbol (symbols)  (Van Cleaf, 1991  dalam Setyosari, 1998). Sebuah konsep tidaklah sama dengan sebuah kata.  Kata merupakan simbul dari sebuah konsep atau cara mengekspresikan  konsep. Konsep pada hakikatnya adalah suatu ide  atau suatu pemahaman terhadap sesuatu atau generalisasi (Kolesnik, 1976). Pembelajaran berbasis konsep dapat dilakukan  melalui analisis  konsep.
1.3  Prinsip atau azas
Prinsip atau azas dalam sains dapat diartikan sebagai suatu pernyataan yang mengandung kebenaran yang bersifat mendasar dan berlaku umum. Pinsip atau azas inilah yang sebenarnya melandasi kebenaran suatu hukum. Misalnya azas kesetimbangan dinamik  atau azas aksi reaksi yang melandasai berbagai macam hukum dalam sains, terutama hukum yang mengungkapkan adanya hubungan sebab akibat, misalnya hukum Boyle, hukum Archimedes dan sebaginya. Contoh azas-azas yang lain dalam sains  adalah azas kekekalan energi dan azas komplementer.
1.4  Hukum
Hukum pada hakekatnya merupakan pernyataan yang menyatakan  hubungan antara dua variabel atau lebih  dalam suatu kaitan sebab akibat. Contohnya dalam  hukum ekonomi, hukum permintaan  dan penawaran. Dalam hukum ini terlihat hubungan sebab akibat antara permintaan, penawaran dan pembentukan harga. Dalam sains dikenal Hukum Boyle, Hukum Kesetimbangan,  Hukum Archimedes, Hukum Mendel.

1.5  Teori
Teori merupakan pengetahuan ilmiah yang mencakup penjelasan mengenai suatu faktor tertentu dari sebuah disiplin keilmuan. Misalnya dalam bidang  ilmu ekonomi  dikenal teori ekonomi makro dan mikro, dalam bidang fisika dikenal teori mekanika Newton dan teori relativitas Einstein. Dalam biologi dikenal teori sel, teori evolusi. Sebuah teori biasanya terdiri dari hukum-hukum. Dalam teori ilmu ekonomi mikro misalnya dikenal hukum permintaan dan penawaran.

2.      Pengalaman Belajar
Pengalaman belajar maksudnya semua proses, peristiwa dan aktivitas yang dialami anak didik untuk mendapatkan pengetahuan, keterampilan dan sikap. Anak didik yang dibimbing oleh guru yang berbeda akan mendapatkan pengalaman belajar yang berbeda pula. Pengalam belajar anak didik akan kaya bila dibimbing oleh banyak guru, berbagai pendekatan, berbagai metode, berbagai model, berbagai media pembelajaran, berbagai sumber belajar dan berbagai kondisi belajar.
Makin aktif anak didik  mengembangkan kemampuan kognitif, afektif, psikomotor, melalui berinteraksi dengan guru, teman sejawat, bahan pelajaran, media pelajaran, dan lingkungan maka semakin kaya dan semakin bermakna pengalaman belajar mereka. Guru bersama-sama dengan anak didik dituntut dapat mengembangkan kompetensi anak didik secara optimal melalui pengalaman belajar tersebut. Oleh karena itu, guru harus menciptakan peluang berbagai pengalam belajar yang dapat dilalui anak didik. Tidak seperti yang terjadi pada masa lalu, anak didik miskin dengan pengalaman belajar, yaitu secara pasif menerima pelajaran dari guru, seperti “mencerek dan mencawan.”
Pengalaman belajar anak didik harus bersifat real atau jangan bersifat abstrak. Artinya, dalam belajar anak didik harus berorientasi kepada kehidupan nyata  atau kehidupan keseharian yang pernah dialami. Sering terjadi kebosanan anak didik dalam belajar karena contoh-contoh tidak ditemukan dalam kehidupan nyata atau sulit didapatkan. Jangan sampai anak didik hanya menerima ceramah saja dari guru tentang objek atau materi pelajaran yang seharusnya diperlihatkan

3.      Dari Orientasi Mengajar ke Orientasi Belajar
Sejak dahulu belajar formal di sekolah  semuanya bergantung kepada guru. Guru dipandang sebagai gudang ilmu dan sekaligus sebagai medium untuk menyebarkannya. Sekalipun buku-buku dan media lainnya  mempunyai sumbangan yang sangat besar dalam menyimpan informasi atau ilmu pengetahuan, namun guru tetap dipandang  sebagai saluran utama untuk menghubungkan ilmu pengetahuan tersebut dengan para anak didik. Kemanjuan dalam berbagai alat penyimpan ilmu pengetahuan  dan teknologi dan pencarian informasi  berkembang sangat pesat sehingga menambah jumlah dan macam ilmu pengetahuan  yang dapat langsung diperoleh  oleh para anak didik melalui media.  Akibatnya peranan guru sebagai sumber dan medium informasi  bagai para anak didik mengalami perubahan.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu pesat menuntut pula perkembangan teknologi pendidikan dan pembelajaran. Salah satu tujuan teknologi pembelajaran  ialah mengurangi sebanyak mungkin atau mengefisienkan pekerjaan yang  dilakukan guru dalam mengajar. Bila informasi atau ilmu pengetahuan dapat disampaikan kepada anak didik  dengan menggunakan media lain selain guru,  maka guru dapat mengembangkan kemampuannya  menjadi lebih kreatif, inovatif dan produktif. Oleh karena itu dengan menggunakan teknologi pembelajaran  kita dapat menempatkan guru sebagai fasilitator dan pembimbing anak didik ke arah pengoptimalan pencapaian ilmu pengetahuan yang  dipelajarinya. Jadi guru  bukan lagi sekedar menyebarkan ilmu pengetahuan, melainkan sebagai pembimbing supaya anak didik  tahu dan terampil dalam mendapat ilmu pengetahuan (learning how to learn).
Sejalan dengan perkembangan teknologi pembelajaran,  ada kecenderungan ke arah berkurangnya  ketergantungan belajar terhadap guru, tetapi tadak akan menghilangan peran guru. Hal ini justru akan menambah peran guru dalam merencanakan kurikulum,  bimbingan,  dan penilaian terhadap para anak didik, dari segi  peran guru sebagai penyaji ilmu pengetahuan memang diakui berkurang.
Jadi dapat dipahami bahwa dengan kemajuan teknologi, terutama teknologi informasi mendorong perkembangan teknologi pembelajaran. Perkembangan teknologi pembelajaran membuat orientasi  mengajar berubah ke arah belajar atau dengan istilah lain dari teacher center ke arah student center.  Dahulu, guru satu-satunya dipandang sebagai sumber dan medium informasi, sekarang berubah ke arah  guru hanya sebagaian dari sumber dan medium informasi. Dahulu, guru aktif mengajar, tetapi sekarang guru aktif membimbing dan mengembangkan kemampuan anak didik. Dahulu, anak didik aktif mendengarkan informasi dari guru (anak didik pasif), tetapi sekarang para anak didik aktif  mendapatkan atau menggali ilmu pengetahuan secara langsung dari berbagai sumber dan media lain di samping guru.

Ringkasan
Jangan memulai materi dari hal yang abstrak atau yang sulit ditemukan contohnya dalam kehidupan nyata. Variasikan materi antara fakta, konsep, prinsip, hukum dan teori dalam pembelajaran. Fakta merupakan  hal (keadaan, fenomena dan peristiwa) berupa kenyataan atau sesuatu yang benar-benar ada  atau terjadi. Fakta sangat banyak ditemukan di alam ini sebagai objek pengkajian sains. Konsep dapat didefinisikan  sebagai organisasi mental dan kategori-kategori pemikiran atau gagasan. Sebagai kategori, konsep memiliki kategori-kategori yang mencakup benda (objecs), peristiwa (events), orang (people), ide-ide (ideas), dan simbol-simbol (symbols). Prinsip atau azas dalam sains dapat diartikan sebagai suatu pernyataan yang mengandung kebenaran yang bersifat mendasar dan berlaku umum. Pinsip atau azas inilah yang sebenarnya melandasi kebenaran suatu hukum. Hukum pada hakekatnya merupakan pernyataan yang menyatakan  hubungan antara dua variabel atau lebih  dalam suatu kaitan sebab akibat. Teori merupakan pengetahuan ilmiah yang mencakup penjelasan mengenai suatu faktor tertentu dari sebuah disiplin keilmuan. Pengalaman belajar maksudnya semua proses, peristiwa dan aktivitas yang dialami anak didik untuk mendapatkan pengetahuan, keterampilan dan sikap. Perkembangan teknologi pembelajaran membuat orientasi  mengajar berubah ke arah belajar atau dengan istilah lain dari teacher center ke arah student center.

Perlatihan
Setelah mempelajarai pokok bahasan ini kerjakanlah latihan berikut:
1)      Jelaskan dengan contoh makna  fakta!
2)      Jelaskan dengan contoh makna  konsep!
3)      Jelaskan dengan contoh makna  prinsip!
4)      Jelaskan dengan contoh makna  hukum!
5)      Jelaskan dengan contoh makna  teori!
6)      Jelaskan dengan contoh makna  pengalaman belajar!
7)      Buktikan dengan sebuah contoh bahwa pengalaman belajar itu sangat penting untuk mengembangkan kompetensi anak didik!
8)      Jelaskan dengan contoh makna  learning how to lear!,
9)      Jelaskan dengan contoh makna  orientasi pembelajaran dari  teacher center ke arah student center!
10)  Buktikan dengan sebuah contoh bahwa pengalaman belajar untuk teacher center berbeda student center!


Jumat, 25 November 2011

BAB 2. TEORI BELAJAR DAN PEMBELAJARAN








 




Belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku individu yang terjadi akibat interaksi dengan lingkungan. Pembelajaran, merupakan hal membelajarkan—yang artinya mengacu kesegala  daya upaya bagaimana membuat seseorang belajar, bagaimana menghasilkan terjadinya peristiwa  belajar di dalam diri  orang tersebut. Dalam proses pembelajaran, komponen proses belajar memegang peranan yang sangat penting. Proses  pembelajaran akan bermakna apabila terjadi kegiatan belajar anak didik. Oleh karena itu, guru sangat penting memahami teori belajar dan pembelajaran, agar dapat memberikan bimbingan kepada anak didik sebaik-baiknya.
Istilah pembelajaran, diperkenalkan sebagai pengganti istilah pengajaran, meskipun kedua istilah itu sering digunakan bergantian dengan arti yang sama dalam wacana pendidikan dan perkurikuluman. Dalam bahasa  Inggris hanya satu istilah untuk keduanya (pembelajaran dan pengajaran), yaitu INSTRUCTION (Munandir, 2001)
Sebelum kita membahas teori-teori  belajar  yang berkembang dewasa ini terlebih dahulu akan dibahas prinsip-prinsip belajar dan hasil belajar, teori-teori belajar  yang dikembangkan sebelum abad ke 20 dan teori-teori belajar yang dikembangkan  pada abad ke 20. Perkembangan teor-teori belajar ini banyak melibatkan penelitian. Teori-teori belajar yang diberikan ini belumlah secara keseluruhan mendalam tapi baru sekedar untuk memberikan informasi umum  yang  merupakan pandangan historis. Setelah mempelajari  bab ini diharapkan Anda mampu:
1 ) menjelaskan pengertian belajar,
2) menjelaskan pengertian hasil belajar,
3) menjelaskan tiga macam teori belajar yang berkembang sbelum abad ke 20,
4)  menjelaskan dua macam teori belajar yang berkembang pada aba ke 20,
5) menjelaskan teori belajar penemuan (discovery learning),
6) menjelaskan teori belajar bermakna  (meaningful learning),
7) menjelaskan teori belajar menurut Gagne
8) menjelaskan teori  Peaget tentang perkembangan intelektual anak
9) menjelaskan teori pembentukan dan pemahaman konsep
2.1  Pengertian Belajar, Hasil Belajar dan Teori Belajar
2.1.1 Pengetian belajar
Sebagian besar ahli pendidikan telah  mencoba merumuskan dan membuat tafsirannya tentang belajar.  Sering pula ditemukan rumusan itu berbeda satu sama lainnya sesuai dengan sisi pandang masing-masing. Pada uraian ini akan dikemukakan beberapa rumusan tentang belajar yang umum digunakan.
Pertama, belajar didefinisikan sebagai modifikasi atau peneguhan perilaku melalaui pengalaman (learning is defined as the modification or strenghening of behavior through experiencing). Berdasarkan pengertian ini, belajar bukan suatu hasil dan bukan pula suatu tujuan tetapi merupakan sutu proses atau suatu aktivitas. Belajar tidak hanya proses mengingat atau menghafal, tetapi lebih jauh dari itu, yakni  proses mengalami sesuatu.  Pengertian ini berbeda dengan pengertian lama yang menyatakan bahwa belajar adalah memperoleh pengetahuan. Pengertian lama ini bukan salah tetapi belum sempurna. Kedua,  belajar adalah suatu proses perubahan perilaku individu yang terjadi akibat interaksi dengan lingkungan. Pengertian ini menekanakan pada interaksi individu dengan lingkungannya. Ketiga, belajar merupakan perpaduan kedua pengertian di atas, yaitu merupakan suatu proses atau aktivitas individu dalam bentuk interaksi dengan lingkungannya sehingga terjadi pengalaman belajar.

2.1.2 Hasil belajar
Setiap proses pembelajaran, keberhasilannya diukur dari  seberapa jauh  hasil belajar yang dicapai, di samping diukur dari segi prosesnya. Oleh karenanya, konsep hasil belajar penting dipahami. Menurut  Burton  (1952) hasil belajar merupakan pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian, sikap, apresiasi,  kemampuan (ability), dan ketrampilan. Hasil belajar itu lambat laun dipersatukan menjadi kepribadian dengan kecepatan yang berbeda-beda. Hasil belajar yang telah dicapai bersifat kompleks dan dapat beradaptasi (adabtable) atau tidak sederhana dan tidak statis. Belajar, pembelajaran dan hasil belajar berkaitan erat dengan teori belajar.  Bloom mengelomopkkan hasil belajar dalam tiga wilayah (domain) atau dikenal dengan taksonomi Bloom, yaitu: (1) ranah kognitif (pengetahuan), (2) ranah afektif (sikap), dan (3) ranah psikomotor (keterampilan). 

2.2 Teori belajar sebelum abad ke-20

Ada tiga teori yang terkenal, yaitu: (1) teori disiplin mental, (2) teori pengembangan alamiah (natural unfoldment) atau self-actualization, dan (3) teori  apersepsi.  Ketiga teori ini mempunyai satu ciri yang sama, yaitu teori-teori ini dikembangkan tanpa dilandasi eksperimen. Ini berarti bahwa dasar orientasinya ialah filosofi atau spekulatif (Dahar, 1988)

a.  Teori disiplin mental (Plato, Aristoteles)
            Teori ini menganggap bahwa dalam belajar, mental siswa didisiplinkan atau dilatih. Guru melatih para siswa, dan setiap hari diberi tes, dan para siswa yang belum pandai harus kembali sesudah jam sekolah untuk dilatih lagi

  1. Teori perkembangan alamiah (natral unfoldment)
            Menurut teori ini, anak akan berkembang secara alamiah. Pengembang teori ini adalah: Jean J. Roussseau (1712-1778); ahli pendidik Swiss Heinrich Pestalozzi (1746-1827);  ahli filsafat, pedidik dan penemu gerakan “Kindegarten” dari  Jerman Friedrich Froebel (1782-1852). Teori ini berlawanan dengan teori disiplin mental.

c.       Teori apersepsi (Johan  Friedrich Herbart (1776-1841)
             Menurut teori ini, belajar merupakan suatu proses terasosiasinya gagasan-gagasan baru dengan gagasan-gagasan lama yang sudah membentuk pikiran (mind). Teori ini berlawanan dengan teor disiplin mental dan teori alamiah.

2.3  Teori-teori Belajar Abad ke-20

                 Ada dua kelompok teori yang berkembang pda abad ke-20 ini, yaitu: (1) teori perilaku (behavioristik), yang berupa teori-teori stimulus-respons (S-R) conditionin, dan (2) teori-teori kognitif (kelompok Gestalt-field).
a.                                    Teori perilaku (behavioristik)
Menurut teori ini, belajar merupakan suatu perubahan perilaku yang dapat diamati, terjadi melalui stimulus-respons menurut prinsip-prinsip mekanistik. Nama-nama yang berhubungan dengan teori ini ialah: Ivan Petrovich Pavlov (1849-1936) adalah ahli fisiologi dan farmakologi Rusia; E.L Thorndike; E.R.Guthrie; B.F. Skinner; R.M. Gagne; A. Bandura; dan beberapa yang lainnya.

b.                                    Teori kognitif (Gestalt-field)
Menurut teori ini, belajar merupakan suatu proses perolehan atau perubahan insait-insait (insights), pandangan-pandangan (outlooks), harapan-harapan, atau pola-pola pikir. Kelompok ini berpendapat bahwa konsep orang, lingkungan psikologi, dan interaksi lebih memudahkan para guru dalam memberikan proses belajar. Konsep-konsep ini memungkinkan guru untuk melihat seseorang, lingkungan, dan interkasi dengan lingkungannya, semuanya itu terjadi pada waktu yang sama; inilah artinya “field.”  Selanjutnya, menurut kelompok  ini, bahwa perilaku yang tidak tampak atau yang tidak dapat diamati adalah mungkin untuk dipelajari dengan cara ilmiah, misalnya pikiran-pikiran (thoughts). Oleh karena kegiatan ini memusatkan diri pada menganalisa proses-proses kognitif, maka prinsip-prinsip dan kesimpulan-kesimpulan, mereka menyarankan teori ini disebut teori kognitif.

Bigge (1982) menyimpulkan perbedan kedua teori ini, yaitu: Pengikut teori perilaku menafsirkan belajar sebagai perubahan tentang kekuatan variabel-variabel hipotesis yang disebut hubungan stimulus-respons (S-R), asosiasi-asosiasi, kekuatan kebiasaan,  atau kecenderungan perilaku. Sedangkan pengikut teori Gestalt-field (teori kognitif) mendefinisikan  belajar sebagai reorganisasi perseptual atau “cognitive field” untuk memperoleh pemahaman.

c.                                     Teori belajar penemuan (Discovery learning) Teori Bruner (1915-…)
      Pendekatan Bruner terhadap belajar didasarkan pada  dua asumsi Rosser (1984): (1) Perolehan pengetahuan merupakan suatu proses interkatif. Berlawanan dengan teori perilaku, Bruner yakin bahwa orang yang belajar berinteraksi dengan lingkungannya secara aktif, perubahan tidak hanya terjadi di lingkungan, tetapi juga dalam diri orang itu sendiri. (2) orang mengkonstruksi pengetahuannya dengan menghubungkan informasi yang masuk dengan informasi yang disimpan yang diperoleh sebelumnya. Model Bruner ini mendekati sekali struktur kognitif Ausubel.
      Belajar sebagai proses kognitif, Bruner (1973)  mengemukakan bahwa belajar melibatkan tiga proses yang berlangsung hampir bersamaan, yaitu: (1) memperoleh informasi baru, (2) transformasi informasi, dan (3) menguji relevansi dan ketepatan pengetahuan.
      Salah satu model instruksional kognitif yang sangat berpengaruh dari Burner (1966) dikenal dengan belajar penemuan (discovery learning). Bruner menganggap bahwa belajar penemuan sesuai dengan pencarian pengetahuan secara aktif oleh manusia, dan dengan sendirinya memberikan hasil yang paling baik. Berusaha sendiri  untuk mencari pemecahan masalah, serta pengetahuan yang menyertainya, sehingga menghasilkan pengetahuan yang benar-benar bermakna.

d.                                    Teori belajar bermakna  (meaningful learning): Teori David Ausubel (1968)
   Belajar bermakna merupakan suatu proses dikaitkannya informasi baru pada konsep-konsep yang relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang. Proses interkatif antara materi yang baru dipelajari dengan subsumer-subsumer inilah yang menjadi inti teori belajar asimilasi Ausubel. Proses ini disebut proses subsumsi.
    Bila dalam struktur kognitif seseorang tidak terdapat konsep-konsep yang relevan atau subsumer-subsumer relevan, maka informasi baru dipelajari secara hafalan. Begitu pula bila tidak ada usaha dilakukan untuk mengasimilasikan pengetahuan baru pada konsep-konsep yang relevan yang sudah ada dalam struktur kognitif, akan terjadi belajar hafalan.
     Peta konsep, Ausubel sangat menekankan agar para guru mengetahui konsep-konsep yang telah dimiliki para siswa supaya berlangsung belajar bermakna. Tetapi Ausubel belum menemukan suatu alat atau cara  bagi para guru yang dapat digunakan untuk terjadinya belajar bermakna.  Novak dan Gowin (1985)  dengan bukunya “Learning how to learn” mengemukakan bahwa belajar bermakna dapat dilakukan dengan pertolongan peta konsep.

e.                                     Teori Gagne (1916-…)
      1) Hasil belajar, Gane mengemukakan  5 (lima) macam hasil belajar:  tiga diantarnya bersifat kognitif,  satu bersifat afektif, dan satu lagi bersifat psikomotorik, yaitu: (1) keterampilan intelektual, (2)  strategi kognitif, (3) sikap, (4) informasi verbal, (5) keterampilan motorik.
     
       2) Kemampuan belajar, Gagne (1984, 1985) mengemukakan 5 kategori  kemampuan belajar, yaitu:
(1)   Informasi verbal
(2)   Kemampuan intelektual, yang terdiri dari:
a.       Diskriminasi
b.      Konsep konkrit
c.       Konsep abstrak
d.      Kaidah
e.       Kaidah tingkat lebih tinggi
(3)   Strategi kognitif
(4)   Sikap
(5)   Keterampilan motorik

f.                                     Tipe kondisi belajar, Gagne (1965) mengemukakan 8 tipe kondisi belajar
1.      Belajar tanda (signal learning)
2.      Belajar stimulus-response
3.      Merangkai (chaining)
4.      Belajar verbal Association
5.      Belajar multiple discrimination
6.      Belajar konsep
7.      Belajar prinsip
8.      Problem solving
g.                                    Teori Piaget
      1) Tiga aspek yang diteliti Piaget dalam perkembangan intelektual, yaitu: (1) struktur, (2) isi, dan (3) funfgsi.
            2)  Tingkat-tingkat perkembangan intelektual, yaitu: (1) sensori-motor (0-2 th), (2) pra-operasional (2-7 th), (3) operasional konkrit (7-11 th), dan (4)  operasi formal (11 th ke atas).

h.                                    Teori pembentukan dan pemahaman konsep (Degeng, 1989: 100-103)

      1)  Model Taba: Pembentukan konsep
Taba (1980) memperkenalkan strategi pengorganisasian pengajaran mikro, khusus untuk belajar konsep dengan pendekatan induktif. Strateginya terdiri dari  3 tahap: (1) pembentukan konsep, (2) interpretasi, dan (3) aplikasi prinsip

      2) Model Bruner: peahaman konsep
                       Pembentukan konsep dan pemahaman konsep merupakan dua kegiatan mengkategori yang berbeda yang menuntut proses berpikir yang berbeda. Dalam pemahaman konsep, konsep-konsep sudah ada sebelunya, sedangkan  dalam pembentukan konsep adalah sebaliknya, yaitu tindakan untuk membantuk kategori-kategori baru. Menurut Bruner (1980), kegiatan mengkategori meiliki dua komponen, yaitu: (1) tindakan membentuk konsep, (2) tindakan pemahaman konsep.

       i.   Teori elaborasi (Degeng, 1989: 114)
                    Teori elaborasi mempreskripsikan cara pengorganisasian pengajaran dengan mengikuti urutan umum ke khusus (rinci). Menurut Reigeluth dan Stein (1983)  ada 7 komponen strategi yang diintegrasikan ke dalam teori elaborasi ini: (1) urutan elaborasi, (2) urutan prasyarat belajar, (3) rangkuman, (4) sintesis, (5) analogi, (6) pengaktif strategi kognitif, dan (7) kontrol belajar



Ringkasan

Belajar merupakan  suatu proses atau aktivitas individu dalam bentuk interaksi dengan lingkungannya sehingga terjadi pengalaman belajar. Pembelajaran merupakan hal membelajarkan—yanng artinya mengacu kesegala  daya upaya bagaimana membuat seseorang belajar, bagaimana menghasilkan terjadinya peristiwa  belajar di dalam diri  orang tersebut. Hasil belajar merupakan pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian, sikap, apresiasi,  kemampuan (ability), dan keterampilan. Ada tiga teori belajar yang terkenal sebelum abab ke-20, yaitu: (1) teori disiplin mental, (2) teori pengembangan alamiah (natural unfoldment) atau self-actualization, dan (3) teori  apersepsi. Dan ada dua kelompok teori belajar yang berkembang pda abad ke-20 ini, yaitu: (1) teori perilaku (behavioristik), yang berupa teori-teori stimulus-respons (S-R) condition, dan (2) teori-teori kognitif (kelompok Gestalt-field).


Perlatihan
Setalah Anda mempelajari bab ini kerjakanlah latihan berikut:
1 ) Jelaskan pengertian belajar belajar!
2)  Jelaskanlah pengertian hasil belajar!
3)  Jelaskan tiga macam teori belajar yang berkembang sbelum abad ke 20!
4)  Jelaskan dua macam teori belajar yang berkembang pada aba ke 20!
5) Jelaskan teori belajar penemuan (discovery learning)!
6) Jelaskan teori belajar bermakna  (meaningful learning)!
7) Jelaskan teori belajar menurut Gagne!
8) Jelaskan teori Peaget tentang perkembangan intelektual anak!
9) Jelaskan teori pembentukan dan pemahaman konsep!

BELAJAR DAN PEMBELAJARAN

BAB I. PENDAHULUAN


Proses belajar mengajar merupakan suatu kegiatan interaktif yang bernilai edukatif. Interaksi edukatif ini terjadi antara guru dengan anak didik dan antara anak didik sesamanya saerta antara anak didik dengan lingkungannya.. Interaksi ini perlu dirancang sedemikian rupa sehingga dapat mencapai hasil yang optimal sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ditetapkan. Untuk terjadinya interaksi edukatif yang baik dalam pembelajaran perlu diketahui berbagai persyaratan yang diperlukan seperti; pendekatan, metode, kondisi, sarana dan prasarana dan mengenali perkembangan intelektual, psikologis dan biologis anak didik.
Mata kuliah Strtegi Belajar Mengajar (SBM) Biologi atau Strategi Pembelajaran (SP) Biologi ini merupakan salah satu mata kuliah yang berperan dalam pembentukan keprofesionalan calon guru. Oleh karena itu, mahasiswa perlu dibekali dengan berbagai teori belajar dan pembelajaran, keterampilan dasar guru, dan berlatih menggunakan teori-teori tersebut. Pada bgian pendahuluan ini diharapkan Anda mampu:
1) menjelaskan pengertian dan ruang lingkup strategi pembelajaran,
2) menjelaskan prinsip dasar pembelajaran,
3) menjelaskan tujuan dan kompetensi dalam pembelajaran,
4) menjelaskan makna profesionalisme dan kompetensi guru,
5) menjelaskan tugas, peran dan tanggung jawab guru,
6) menjelaskan makna, persyaratan dan kode etik guru,
7) menjelaskan kharakteristik guru biologi dan anak didiknya,

1.1 Pengertian dan Ruang Lingkup Strategi Pembelajaran
Istilah strategi awalnya digunakan dalam ilmu perang, maksudnya menyusun dan membimbing alat-alat perang sedemikian rupa sehingga: kemenangan tercapai secepat-cepatnya dan korban yang terjadi sesedikit mungkin. Dalam membuat suatu siasat untuk mencapai tujuan, dalam bidang pendidikan dan pengajaran orang juga suka menggunakan istilah strategi (Poerbakawatja dan Harahap, 1982). Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1991) dikemukakan beberapa arti istilah strategi di antaranya: (1) ilmu dan seni menggunakan semua sumber daya bangsa untuk melaksanakan kebijaksanaan tertentu dalam perang dan damai, (2) ilmu dan seni memimpin bala tentara untuk menghadapi musuh dalam perang, (3) rencana yang cermat mengenai kegitan untuk mencapai sasaran khusus. Tampaknya, pengertian istilah ini masih berkisar dalam lingkup ilmu perang.
Secara umum, strategi diartikan sebagai suatu cara atau kiat untuk bertindak dalam usaha mencapai tujuan atau target yang telah ditentukan. Istilah strategi ini sudah banyak diadopsi dan digunakan dalam bidang pendidikan dan pembelajaran. Bila dihubungkan dengan proses pembelajaran, strategi bisa diartikan sebagai cara atau pola umum kegiatan guru-anak didik dalam perwujudan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan atau sasaran yang telah ditentukan atau digariskan.
Ruang lingkup strategi pembelajaran mencakup keseluruahn cara untuk mencapai tujuan dan sasaran pembelajaran, mencakup pendekatan, metode, teknik pembelajaran dan seluruh aspek yang terkait erat dengan pencapaian tujuan ini.

1.2 Prinsip Dasar Pembelajaran
Prinsip dasar pembelajaran adalah mengembangkan potensi anak didik (kognitif, afektif, psikomotor atau dalam paradigma baru dikenal istilah kecerdasan intelektual, emosional, spiritual dan skill) secara optimal. Untuk itu perlu dirancang strategi pembelajaran: (1) bagaimana guru mengajar, mendidik dan melatih secara tepat, (2) bagaimana guru memotivasi anak didik supaya belajar dan mengembangkan kompetensinya secara optimal, (3) bagaimana anak didik memiliki akhlak mulia, (4) faktor-faktor apa saja yang harus diperhatikan untuk mencapai keberhasilan belajar anak didik (mis. faktor guru, faktor siswa, lingkungan belajar, sarana dan prasarana, faktor orang tua, faktor budaya dan sebagainya), (5) bagaimanaa guru bisa menjadi teladan dalam berperilaku, dan (6) bagaimana seharusnya peran guru dalam pembelajaran.

1.3 Tujuan dan Kompetensi dalam Pembelajaran Biologi
Tujuan pembelajaran biologi berangkat dari hirarki yang tertinggi sampai yang terendah yaitu tujuan pendidikan nasional, tujuan institusional (tujuan lembaga), tujuan kurikuler (tujuan setiap matapelajaran), tujuan pembelajaran umum (TPU), dan tujuan pembelajaran khusus TPK). Dalam kurikulum 2004 (Kurikulum Berbasis Kompetensi), kata tujuan ini diganti dengan kompetensi (standar kompetensi, kompetensi dasar, dan indikator). Standar kompetensi merupakan kemampuan yang dapat dilakukan atau ditampilkan untuk suatu mata pelajaran; kompetensi dalam mata pelajaran tetentu yang harus dimiliki oleh anak didik; kemampuan yang harus dimiliki oleh lulusan dalam suatu mata pelajaran (mata pelajaran Biologi). Kompetensi dasar merupakan kemampuan minimal dalam mata pelajaran yang harus dimiliki oleh lulusan; kemampuan minimum yang harus dapat dilakukan atau ditampilkan oleh anak didik untuk standar kompetensi tertentu dari suatu mata pelajaran. Indikator merupakan karakteristik, ciri-ciri, tanda-tanda, perbuatan atau respons yang harus dimiliki atau ditampilkan oleh anak didik untuk menunjukkan bahwa mereka telah memiliki kompetensi dasar tertentu. Indikator merupakan kompetensi dasar yang lebih spesifik yang dapat dijadikan ukuran untuk menilai ketercapaian hasil pembelajaran. Indikator dirumuskan dengan kata-kata kerja operasional.

1.4 Profesionalisme dan Kompetensi Guru Biologi
Guru yang profesional adalah guru yang menguasai ilmu atau ahli dalam bidangnya, mengusasi ilmu strategi pembelajaran dan wawasan kependidikan dan keguruan, memilki skill dalam pembelajaran, selalu mengembangkan potensi diri (belajar sepanjang hayat) dan menjadi suri teladan bagi anak didik. Untuk menjadi guru profesional sangat ditentukan oleh kulitas guru itu sendiri. Sementara, kualitas seorang guru ditentukan oleh banyak faktor, di antarnya keimanan dan ketaqwaan guru, pengetahuan guru, kepribadian guru, kecakapan guru, hubungan sosial guru, motivasi guru, kemampuan mengembangkan diri, kepedulian guru, tanggung jawab guru dan sebagainya. Dengan kata lain antara profesionlisme dengan kulitas guru sangat berhubungan erat.
Depatemen Pendidikan dan Kebudayaan (1900) telah merumuskan beberapa kemampuan (kompetensi) yang harus dimilki guru dan mengelompokannya atas tiga dimensi umum kemampuan, yaitu:
1) Kemampuan profesional, yang mencakup:
a. Penguasaan materi pelajaran, mencakup bahan yang akan diajarkan dan dasar keilmuaan dari bahan pelajaran tersebut.
b. Penguasaan landasan dan wawasan kependidikan dan keguruan.
c. Penguasan proses kependidikan, keguruan dan pembelajaran.
2) Kemampuan sosial, yaitu kemampuan menyesuaikan diri dengan tuntutan kerja dan lingkungan sekitar.
3) Kemampuan personal yang mencakup:
a. Penampilan sikap yang positif terhadap keseluruhan tugasnya sebagai guru, dan terhadap keseluruhan situasi pendidikan.
b. Pemahaman, penghayatan, dan penampilan nilai-nilai yang seharusnya dimiliki guru.
c. penampilan upaya untuk menjadikan dirinya sebagai suri teladan bagi anak didik.

Selanjutnya Depdikbud (1980) merinci ketiga kelopk kompetensi tersebut menjadi sepuluh, yang dikenal dengan sepuluh kompetensi dasar guru, yaitu:
(1) Penguasaan bahan pelajaran beserta konsep-konsep dasar keilmuannya.
(2) Pengelolaan program belajar mengajar.
(3) Pengelolaan kelas.
(4) Penggunaan media dan sumber pembelajaran.
(5) Penguasaan landasan-landasan kependidikan.
(6) Pengelolaan interaksi belajar mengajar.
(7) Penilaian prestasi belajar siswa.
(8) Pengenalan fungsi dan program bimbingan dan penyuluhan.
(9) Pengenalan dan penyelenggaraan administrasi sekolah.
(10)Pemahaman prinsip-prinsip dan pemanfaatan hasil penelitian pendidikan untuk kepentingan peningkatan mutu pengajaran.
Kemudian, menurut UU No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan dosen juga dirumuskan tentang kompetensi guru ini. Dalam pasal 10 ayat 1 dinyatakan,”kompetensi guru meluputi:
(1) kompetensi pedagogik,
(2) kompetensi kepribadian,
(3) kompetensi sosial, dan
(4) kompetensi profesional).
Kemudian, masing-masing kompetensi ini dijelaskan dalam penjelasan UU No. 14 Tahun 2005 pasal 10. Yang dimaksud dengan kompetensi pedagogik adalah kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik. Yang dimaksud dengan komptensi kepribadian adalah kemampuan kepribadian yang mantap, berakhlak mulia, arif, dan berwibawa serta menjadi teladan peserta didik. Yang dimaksud kompetensi sosial adalah kemampuan guru untuk berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan efisien dengan peserta didik, sesama guru, orangtua/wali peserta didik, dan masyarakat sekita. Yang dimaksud dengan kompetensi profesional adalah kemampuan penguasaan materi pelajaran secara luas dan mendalam.

1.5 Tugas dan Tanggung Jawab Guru
Guru adalah orang yang bertugas mengajar, mendidik dan melatih anak didik dan bertanggung jawab mencerdaskan kehidupan anak didik. Tidak ada seorang guru mneginginkan anak didiknya menjadi sampah masyarkat atau menjadi beban orang tua, masyarakat, bangsa dan negara. Untuk itulah guru dengan penuh dedikasi dan loyalitas berusaha keras supaya anak didiknya sukses dalam menuntut ilmu pengetahuan dan menjadi anak yang baik, manusia yang maju dan berkualitas, berguna bagi nusa dan bangsa. Oleh karenanya guru mempunyai tugas dan tanggung jawab yang berat.
Peters (1963) tidak membedakan (menyatukan) antara tugas dan tanggung jawab guru. Dia mengemukakan ada tiga tugas dan tanggung jawab guru, yaitu:
(1) guru sebagai pengajar,
(2) guru sebagai pembimbing, dan
(3) guru sebagai administratror kelas.
Senda dengan Peters, para pakar pendidikan lain juga merumuskan tugas guru, yaitu:
(1) sebagai pengajar (memberi ilmu pengetahuan),
(2) sebagai pendidik (membentuk perilaku yang baik), dan
(3) sebagai pelatih (menjadikan anak didik skill atau terampil dalam bidang tertentu).
Di pihak lain ada pula pakar pendidikan membedakan antara tugas dan peran guru. Peran guru yang dimaksud adalah sebagai:
(1) korektor
(2) inspirator
(3) informator
(4) organisator
(5) motivator
(6) inisiator
(7) fasilitator
(8) pembimbing
(9) demonstrator
(10) pengelola kelas
(11) mediator
(12) supervisor
(13) evaluator

1.6 Makna, Persyaratan dan Kode Etik Guru
Guru dalam konteks dunia pendidikan adalah seorang pendidik yang bertugas membekali anak didik dengan ilmu pengetahuan, membentuk sikap atau perilaku yang baik dan melatih anak didik menjadi terampil dalam bidang tertentu. Guru dalam pandangan masyarakat adalah orang yang melaksanakan pendidikan ditempat tertentu, tidak mesti di lembaga pendidikan formal seperti sekolah, melainkan bisa juga di pendidikan non formal, seperti: di masjid, di musalla, di rumah dan sebagainya. Pendapat lain mengatakan bahwa guru adalah semua orang yang berwenang dan bertanggung jawab terhadap pendidikan anak didik, baik secara individu ataupun klasikal, baik di sekolah maupun di luar sekolah.
Tidaklah sembarangan orang dapat menjadi guru, tetapi harus memenuhi beberapa persyaratan, yaitu:
(1) taqwa kepada Allah SWT,
(2) mempunyai ilmu pengetahuan,
(3) sehat jasmani dan rohani,
(4) berakhlak mulia,
(5) mampu mengajar, mendidik dan melatih anak didik,
(6) bersedia mamatuhi kode etik guru,
(7) mempunyai dedikasi dan loyaltas yang tinggi pendidikan, dan
(8) mampu mengembangkan diri sepanjang hayat.
Salah satu ciri jabatan profesional adalah mempunyai kode etik. Karena guru merupakan jabatan profesional maka guru juga mempunyai kode etik, yang dikenal dengan kode etik guru. Kode etik guru Indonesia merupakan rumusan kongres PGRI XIII pada tanggal 21 sampai 25 November 1973 di Jakarta , yang terdiri atas sembilan item, yaitu:
(1) Guru berbakti membimbing anak didik seutuhnya untuk membentuk manusia pembangunan yang ber-Pancasila.
(2) Guru memiliki kejujuran profesional dalam menerapkan kurikulum sesuai kebutuhan anak didikmasing-masing.
(3) Guru mengadakan kominikasi, terutama dalam memperoleh informasi tentang anak didik, tetapi menghindarkan diri dari dari segala bentuk penyalahgunaan.
(4) Guru menciptakan suasana kehidupan sekolah dan memelihara hubungan dengan orang tua anak didik sebaik-baiknya bagi kepentingan anak didik.
(5) Guru memelihara hubungan baik dengan masyarakat di sekitar sekolah maupun masyarakat yang lebih luas untuk kepentingan pendidikan.
(6) Guru sendiri atau bersama-sama berusaha mengembangkan dan meningkatkan mutu profesinya.
(7) Guru menciptakan dan memelihara hubungan antara seama guru, baik berdasarkan lingkungan kerja maupun dalam hubungan keseluruhan.
(8) Guru secara hukum bersama-sama memelihara ,membina, dan meningkatkan mutu organisasi guru profesional sebagai sarana pengabdiannya.
(9) Guru melaksanakan segala ketentuan yang merupakan kebijakan pemerintah dalam bidang pendidikan.
Setiap guru berkewajiban melaksanakn kode etik ini sebagai barometer dari semua sikap dan perbuatan guru dalam berbagai segi kehidupan, baik dalam keluarga, sekolah maupun masyarkat, baik dalam menjalankan tugas maupun di luar menjalankan tugas sebagai guru.

1.7 Kharakteristik Guru Biologi dan Anak Didiknya
Salah satu kharakteristik guru biologi adalah senang berinteraksi dengan alam lingkungan, terutama dengan makhluk hidup. Guru biologi tidak bisa dipisahkan dengan laboratorium, termasuk alam semesta ini. Dengan kata lain, guru biologi harus mencintai mkhluk hidup dan senang berinteraksi dengannya dalam rangka menggali ilmu tentang makhluk hidup itu sendiri dan lingkungannya serta mengajarkannya kepada anak didiknya.
Seperti halnya kharakteristik guru biologi, kharakteristik anak didik biologi adalah anak yang dalam proses pembelajaran senang berinteraksi dengan alam semesta khususnya makhluk hidup dan lingkungannya. Mereka harus mencintai makhluk hidup dan senang berinteraksi dengannya. Berinteraksi bisa berarti mempelajari, mengamati, meneliti, memanipulasi dalam rangka memperoleh ilmu tentang makhluk hidup beserta lingkuangannya.

Ringkasan
Strategi pembelajaran secara umum mempunyai arti suatu garis-garis besar haluan untuk bertindak dalam usaha mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Prinsip dasar pembelajaran adalah bagaimana memotivasi anak didik supaya belajar dan mengembangkan potensinya secara optimal, faktor-faktor apa saja yang harus diperhatikan untuk mencapai keberhasilan belajar anak didik. Tujuan pembelajaran biologi berangkat dari hirarki yang tertinggi sampai yang terendah yaitu tujuan pendidikan nasional, tujuan institusional (tujuan lembaga), tujuan kurikuler (tujuan setiap matapelajaran), tujuan pembelajaran umum (TPU), dan tujuan pembelajaran khusus TPK). Pembelajaran hendaklah dilaksanakan oleh guru yang profesional. Guru yang profesional adalah guru yang menguasai ilmu dalam bidangnya, mengusasi ilmu strategi pembelajaran dan mempunyai wawasan kependidikan dan keguruan, memilki skill dalam pembelajaran, selalu mengembangkan potensi diri (belajar sepanjang hayat) dan menjadi suri teladan bagi anak didik. Guru adalah orang yang bertugas mengajar, mendidik dan melatih anak didik dan bertanggung jawab mencerdaskan kehidupan anak didik. Guru dalam konteks dunia pendidikan adalah seorang pendidik yang bertugas membekali anak didik dengan ilmu pengetahuan, membentuk sikap atau perilaku yang baik dan melatih anak didik menjadi terampil dalam bidang tertentu. Salah satu kharakteristik guru biologi adalah senang berinteraksi dengan alam lingkungan, terutama dengan makhluk hidup.

Perlatihan
Setelah Anda mempelajari pokok bahasan ini, kerjakanlah latihan berikut:
1) Jelaskanlah pengertian dan ruang lingkup strategi pembelajaran!
2) Jelaskanlah prinsip dasar pembelajaran!
3) Jelaskanlah tujuan dan kompetensi dalam pembelajaran!
4) Jelaskanlah makna profesionalisme!
5) Jelaskanlah makna kompetensi guru!
6) Jelaskanlah tugas, peran dan tanggung jawab guru!
7) Jelaskanlah makna, persyaratan dan kode etik guru!
8) Jelaskanlah kharakteristik guru biologi dan anak didiknya!