Sabtu, 26 November 2011

CONTOH LAPORAN BUKU


LAPORAN BUKU



JUDUL BUKU                      : Sosiolinguistik (Perkenalan Awal)
PENGARANG                       : Abdul Chaer
                                                  Leonie Agustina
PENERBIT                             : Rineka Cipta
TAHUN TERBIT                   : Juni 2004
CETAKAN                             : Kedua
KOTA TERBIT                      : Jakarta
TEBAL BUKU                      : i-ix dan 256 + cover
HARGA BUKU                     : Rp. 47.000
RC.No                                     : 1190/H/2004
ISBN                                       : 979-518-647-7


GARIS BESAR ISI BUKU :

BAB I : PENDAHULUAN
1.      Pengertian sosiolinguistik
2.      Masalah-masalah sosiolinguistik
3.      Kegunaan sosiolinguistik

BAB 2 : KOMUNIKASI BAHASA
1.      Hakikat bahasa
2.      Fungsi bahasa
3.      Hakikat komunikasi
4.      Komunikasi bahasa
5.      Keistimewaan bahasa manusia

BAB 3 : BAHASA DAN MASYARAKAT
1.      Bahasa dan tutur
2.      Verbal repertoire
3.      Masyarakat tutur
4.      Bahasa dan tingkatan sosial masyarakat

BAB 4 : PERISTIWA TUTUR DAN TINDAK TUTUR
1.      Peristiwa tutur
2.      Tindak tutur
3.      Tindak tutur dan pragmatik

BAB 5 : PELBAGAI VARIASI DAN JENIS BAHASA
1.      Variasi bahasa
2.      Jenis bahasa

BAB 6 BILINGUALISME DAN DIGLOSIA
1.      Bilingualisme
2.      Diglosia
3.      Kaitan Bilingualisme dan Diglosia.
BAB 7 ALIH KODE DAN CAMPUR KODE
1.      Alih Kode
2.      CampurKode

BAB 8 INTERFERENSI DAN INTEGRASI
1.      Interfensi
2.      Integrasi

BAB 9 PERUBAHAN, PERGESERAN, DAN PEMERTAHANAN BAHASA
1.      Perubahan Bahasa
2.      Pergeseran Bahasa

BAB 10 SIKAP BAHASA DAN PEMILIHAN BAHASA
1.      Sikap Bahasa
2.      PemilihanBahasa

BAB 11 BAHASA DAN KEBUDAYAAN
1.      Hakikat Kebudayaan
2.      Hubungan Bahasadan Kebudayaan
3.      Etika Berbahasa

BAB 12 PERENANAAN BAHASA
1.      Kebijaksanaan Bahasa
2.      Perencanaan Bahasa

BAB 13 PEMBAKUAN BAHASA
1.      Bahasa Baku
2.      Fungsi Bahasa Baku
3.      PemilihanRagamBaku
4.      Bahasa lndonesia Baku

BAB 14 PENDIDIKAN DAN PENGAJARAN BAHASA
1.      Variabel Pembelajaran Bahasa
2.      Tujuan Pengajaran Bahasa
3.      Pengajaran BahasaKedua
4.      Pragmatik dan Pengajaran Bahasa

BAB 15 PROFIL SOSIOLINGUISTIK DI INDONESIA
1.      Bahasa Indonesia Bahasa Daerah, dan Bahasa Asing
2.      Bahasa Indonesia Berasal dari Pijin
3.      Pembakuan Bahasa Indonesia
4.      Pengajaran Bahasa Indonesia
5.      Sikap dan Kemampuan Berbahasa





INTISARI BAB/SUB BAB BUKU :

BAB I : PENDAHULUAN
1.      Pengertian sosiolinguistik
Kalau disimak dari beberapa definisi, maka dapat disimpulkan bahwa sosiolinguistik adalah cabang ilmu linguistik yang bersifat lnterdisipriner dengan ilmu sosiologi, dengan objek penelitian hubungan antara bahasa dengan faktor-faktor sosial di dalam suatu masyarakat tutur. Atau secara lebih operasional lagi seperti dikatakan Fishman (1972,1976 ‘,.....study of who speak what language to whom and when"
2.      Masalah-masalah sosiolinguistik
Konferensi sosiolinguistik pertama yang berlangsung di University ofCalifornia, Los Angeles 1964 telah merumuskan ada tujuh dimensi dalam penelitian sosiolinguistik. Ketujuh dimensi yang nerupakan masalah dalam sosiolinguistik itu adalah
a)      Identitas sosial dari penutun
b)      Identitas sosial dari pendengar yang terlibat dalam proses komunikasi,
c)      Lingkungan sosial tempat peristiwa tuiur terjadi,
d)     Analisis sinkonik dan dialcronik dari calek-dialek sosial,
e)      Penilaian totiuf yang berbeda oleh penutur akan perilaku bentuk-bentutc uiaran, 
f)       Tingkatan variasi dan ragarn linguistik, dan penerapan pratiis dari peneiitian sosiolinguistik
3.      Kegunaan sosiolinguistik
Sosiolinguistik akan memberikan pedoman kepada kita dalam berkomunikasi dengan menunjukan bahasa, ragam bahasaatau gaya bahasa apa yang harus kita gunakan jika kita berbicara dengan orang tertentu.

BAB 2 : KOMUNIKASI BAHASA
1.      Hakikat bahasa
Beberapa ciri yang merupakan hakikat bahasa adalah bahwa bahasa itu sebuah sistem lambang, berupa bunyi, arbitrer, produktif, dinamis, beragam, dan manusiawi.
2.      Fungsi bahasa
Dilihat dari segi penutur bahasa berfungsi sebagai personal, dilihat dari segi pendengar berfungsi sebagai direktif, dilihat dari segi kontak penutur dan pendengar fungsinya sebagai menjalin hubungan, dilihat dari topik ujaran berfungsi sebagai alat untuk membicarakan objek, dilihat dari segi kode yang digunakan berfungsi membicarakan bahasa itu sendiri, sedangkan jika dilihat dari segi amanat berfungsi sebagai alat untuk menyampaikan gagasan, fikiran dan perasaan.
3.      Hakikat komunikasi
Jika kita lihat dari pengertiannya maka komunikasi adalah proses pertukaran informasi antar individual, melalui simbol tanda, atau tingkah laku yang umum (verbal atau non verbal). Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa komunikasi melibatkan pengirim informasi, penerima informasi, informasi itu sendiri dan alat yang digunakannya.


4.      Komunikasi bahasa
Berlangsungnya komunikasi bahasa dapat digambarkan sebagai berikut:


 










5.      Keistimewaan bahasa manusia
o   Menggunakan jalur vokal auditif
o   Dapat tersiar ke segala arah
o   Dapat dipisahkan menjadi unit satuan
o   Bersifat terbuka
o   Dapat menyatakan yang benar dan tidak benar
o   Dapat digunakan untuk membicarakan itu sendiri
o   Dll.

BAB 3 : BAHASA DAN MASYARAKAT
1.      Bahasa dan tutur
Secara linguistik dapat disimpulkan bahwa setiap bahasa sebgai langue dapat terdiri dari sejumlah dialek, dan setiap dialekterdiri dari sejumlah idiolek.
2.      Verbal repertoire
Adalah semua bahasa beserta ragam-ragamnya yang dimiliki atau dikuasai oleh seorang penutur
3.      Masyarakat tutur
Jika dalam suatu kelompok masyarakat menggunakan verbal repertoir yang hampir sama serta mempunyai penilaian yang sama  terhadap norma-norma pemakaian bahasa maka maayarakat itu dikatakan sebuah masyarakat tutur.
4.      Bahasa dan tingkatan sosial masyarakat
Berdasarkan hasil penelitian Labov dan uraian mengenai salah satu bahasa daerahyang ada di Indonesia dapat disimpulkan bahwa memang ada kolerasi antara tingkat sosial masyarakat dengan ragam bahasa yang digunakan.


BAB 4 : PERISTIWA TUTUR DAN TINDAK TUTUR
1.      Peristiwa tutur
Adalah terjadinya atau berlangsungnya interaksi linguistik dalam satu bentuk ujaran atau lebih yang melibatkan dua pihak, yaitu penutur dan lawan tutur, dengan satu pokok tuturan, dalam waktu, tempatdan situasi tertentu.
2.      Tindak tutur
Jika peristiwa tutur merupakan gejala sosial maka tindak tutur merupakan gejala individual, bersifat psikologis,dan keberlangsungannya ditentukan oleh kemampuan bahasa si penuturdalam menghadapi situasi tertentu.
3.      Tindak tutur dan pragmatik
Pragmatik merupakan menelaah makna menurut tafsiran pendengar.

BAB 5 : PELBAGAI VARIASI DAN JENIS BAHASA
1.      Variasi bahasa
a)      Variasi dari segi penutur
b)      Variasi dari segi pemakaian
c)      Variasi dari segi keformalan
d)     Variasi dari segi sarana
2.      Jenis bahasa
a)      Jenis bahasa berdasarkan sosiologis
b)      Jenis bahasa berdasarkan sikap politik
c)      Jenis bahasa berdasarkan tahap pemerolehan
d)     Lingua franca

BAB 6 BILINGUALISME DAN DIGLOSIA
1.      Bilingualisme
Dalam sosiolinguistik dapat diartikan sebagai penggunaan dua bahasa oleh seorang penutur dalam pergaulannya dengan orang lain secara bergantian.
2.      Diglosia
Suatu keadaan dalam masyarakat dimana terdapat dua variasi dalam suatu bahasa yang hidup berdampingan dan masing-masing mempunyai peranan tertentu.
3.      Kaitan Bilingualisme dan Diglosia.
Kalau diglosia diartikan sebagai adanya pembedaan fungsi atas penggunaan bahasa sedangkan bilingualisme adalah keadaan penggunaan dua bahasa secara bergantian dalam masyarakat.

BAB 7 ALIH KODE DAN CAMPUR KODE
1.      Alih Kode
Peristiwa pergantian bahasa atau berubahnya dari ragam santai menjadi ragam resmi atau sebaliknya (gejala peralihan pemakaian bahasakarena berubahnya situasi)
         Contoh. Sunda ke Indonesia
2.      CampurKode
Alih kode dan campur kode sangat sukar dibedakan bahkan menurut Hill dan Hill (1980:122) tidak ada harapan untuk membedakan antar alih kode dengan campur kode.
Kesamaannya adalah digunakannya dua bahasa atau lebih dalam masyarakat tutur.

BAB 8 INTERFERENSI DAN INTEGRASI
1.      Interfensi
Pertama kali dikemukakan oleh Weinreich (1953) untuk menyebutkan adanya perubahan sistem suatu bahasa sehubungan dengan adanya persentuhan bahsa tersebut dengan unsur-unsur bahasa lain yang dilakukan oleh penutur yang bilingual.
2.      Integrasi
Adalah unsur-unsur bahasa lain yang digunakan dalam bahasa tertentu dan dianggap sudah menjadi warga bahasa tersebut. Tidak dianggap lagi sebagai bahasa pinjaman atau pungutan.


BAB 9 PERUBAHAN, PERGESERAN, DAN PEMERTAHANAN BAHASA
1.      Perubahan Bahasa
Adalah adanya perubahan kaidah (direvisi, menghilang atau muncul kaidah-kaidah baru dan semua itu dapat terjadi pada semua tataran linguistik yaitu
o   Fonologi
o   Morfologi
o   Sintaksis
o   Semantik
o   leksikon
2.      Pergeseran Bahasa
Menyangkut masalah penggunaan bahsa oleh seorang penutur atau sekelompok penutur yang terjadi perpindahan dari satu masyarakat tutur ke masyarakat tutur yang lain.
3.      Pemertahanan Bahasa
Suatu upaya agar bahasa tertentu dapat dipertahankan keberadaanya.

BAB 10 SIKAP BAHASA DAN PEMILIHAN BAHASA
1.      Sikap Bahasa
Untuk dapat memahami apa yang disebut sikap bahasa terlebih dahulu harus dijelaskan apa itu sikap. Sesungguhnya sikap adalah fenomena kejiwaan, yang biasanya termanifestasi dalam bentuk tindakan dan perilaku.
Menurut Garvin dan Mathiot ada tiga ciri sikap bahasa yaitu sebagi berikut:
a)      Kesetiaan bahasa (language loyalty)
Mendorong masyarakat suatu bahasa mempertahankan suatu bahasanya, dan apabila perlu mencegah adanya pengaruh bahasa lain.
b)      Kebanggaan bahasa (language pride)
Mendorong orang mengembangkan bahasanya dan menggunakannya sebagai lambang identitas dan kesatuan masyarakat.
c)      Kesadaran adanya norma bahasa (awareness of the norm)
Mendorong orang untuk menggunakan bahasanya dengan cermat dan santun

Dapat dilihat bahwa sikap bahasa juga bisa mempengaaruhi seseorang untuk menggunakan suatu bahasa dan bukan bahasa yang lain dalam masyarakat yang bilingual atau multilingual.
2.      PemilihanBahasa
Dimasyarakat yang diglosia untuk domain yang tidak formal, seperti keluarga, biasanya lebih tepat digunakan bahasa ragam rendah, sedangkan dlam somain yang formal, seperti dalam pendidikan penggunaan ragam bahasa tinggi lebih tepat. Maka pemilihan suatu bahasa atau ragam bahasa dalam pendekatan sosiologis ini tergantung pada domainnya.

BAB 11 BAHASA DAN KEBUDAYAAN
1.      Hakikat Kebudayaan
Kebudayaan melingkupi semua aspek dan segi kehidupan manusia. Lalu kalau kita lihat definisi golongan maka bisa dikatakan apa saja perbuatan manusia dengan segala hasil dan akibatnya adalah termasuk dalam konsep kebudayaan.
2.      Hubungan Bahasadan Kebudayaan
Hubungan bahasa dan kebudayaan merupakan hubungan yang subordinatif, dimana bahasa berada dibawah lingkup kebudayaan. Namun bahasa juga bisa bersifat koordinatif yakni hubungan sederajat yang kedudukannya sama tinggi dan saling melekat pada manusia.
    Kalau kebudayaan adalah suatu sistem yang mengatur interaksi manusia didalam masyarakat, maka kebahasaan adalah suatu sistem yang berfungsi sebagai sarana berlangsungnya interaksi itu. Dengan kata lain, hubungan yang erat itu berlaku sebagai kebudayaan merupakan sistem yang mengatur interaksi manusia, sedangkan kebahasaan merupakan sistem yang berfungsi sebagai sarana keberlangsungan sarana itu.
3.      Etika Berbahasa
Etika bahasa erat kaitannya dengan pemilihan kode bahasa, norma-norma sosial, dan sitem bahsa yang berlaku dalam suatu masayarakat. Oleh karena itu etiak berbahasa akan mengatur beberapa hal:
a)      Apa yang harus kita katakan pada waktu dan keadaan tertentu kepada seseorang partisipan tertentu berkenaan dengan status sosial dan budaya dalam masyarakat itu.
b)      Ragam bahsa apa yang wajar digunakan dalam situasi sosiolinguistik dan budaya tertentu.
c)      Kapan dan bagaimana kita menggunakan giliran berbicara kita dan menyela pembicaraan orang lain.
d)     Kapan kita harus diam
e)      Bagaimana kualitas suara dan sikap fisik kita dalam berbicara

BAB 12 PERENCANAAN BAHASA
1.      Kebijaksanaan Bahasa
Merupakansaha kenegaraan suatu bangsa untuk menentukan dan menetapkan dengan tepat fungsi dan status bahasa atau bahsa-bahsa yang ada di Negara itu, agar komunikasi kenegaraan dan kebangsaan dapat belangsung dengan baik. Selain memberi keputusan mengenai status, kedudukan dan fungsi suatu bahasa kebijaksanaan suatu bahasa harus pula memberi pengarahan terhadap pengolahan materi bahasa itu yang biasa disebut korpus bahasa.

2.      Perencanaan Bahasa
Merupakan usaha untuk membuat penggunaan bahasa atau bahasa-bahasa dalam satu Negara di masa depan dengan lebih baik dan terarah. Dilakukan oleh perorangan atau lembaga pemerintahan. Di Indonesia lembaga yang dimaksud adalah lembaga yang bernama Pusat Bahasa yang bertugas sebagai pelaksana kebijakan di bidang penelitian dan pengembangan bahasa, bertanggung jawab langsung kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

BAB 13 PEMBAKUAN BAHASA
1.      Bahasa Baku
Bahasa baku adalah salah satu variasi bahasa yang diangkat dan disepakati sebagai ragam bahasa yang akan dijadikan tolok ukur sebagai bahasa yang baik dan benar dalam komunikasi yang bersifat resmi, baik secara lisan maupun tulisan.
2.      Fungsi Bahasa Baku
Selain fungsi penggunaannya untuk situasi-situasi resmi, ragam bahsa baku menurut Gravin dan Mathiot (1956: 785-787) juga mempunyai fungsi yang lain yang bersifat sosial politik yaitu:
a)      Fungsi pemersatu
b)      Fungsi pemisah
c)      Fungsi harga diri
d)     Fungsi kerangka acuan.
3.      PemilihanRagamBaku
Moeliono (1975:2) mengatakan bahwa pada umumnya yang layak dianggap baku ialah ujaran dan tulisan yang dipakai oleh golongan masyarakat yang paling luas pengaruhnya dan paling besar kewibawaannya. Termasuk didalamnya para pejabatnya, para guru, warga media masa, alim ulama dan cendikiawan.
4.      Bahasa lndonesia Baku
Pembakuan bahasa Indonesia dalam bidang kosakata dan peristilahantelah lam dilakukan. Kebakuan unsur leksial dapat dilihat dari:
a)      Ejaannya
b)      Lafalnya
c)      Bentuknya
d)      Sumber pengambilannya
Kebakuan menurut bentuk misalnya, tetapi dan begitu adalah bentuk baku sedangkan tapi dan gitu adalah bentuk yang tidak baku. Kebakuan kosakata menurut sumber pengambilannya adalah disebut tidak baku kalau kosakata itu adalah kosakata bahasa daerah atau jelas-jelas bukan kosakata bahasa baku. Umpamanya kata tidak dan uang adalah baku, sedangkan nggak dan duit adalah tidak baku.

BAB 14 PENDIDIKAN DAN PENGAJARAN BAHASA
1.      Variabel Pembelajaran Bahasa
Dalam proses belajar mengajar bahasa akan kita temui beberapa variabel yaitu:
o   Murid
o   Guru bahan pelajaran
o   Tujuan pengajaran
o   Serta lingkungan keluarga dan masyarakat.
Disamping variabel diatas ada beberapa faktor yang dapat mendukung keberhasilan belajar bahasa yaitu yang disebut asas-asas belajar. Diantaranya adalah asas yang bersifat psikologis anak didik.
·         Motivasi
·         Pengalaman belajar sendiri
·         Keingintahuan
·         Analisis sintesis
·         Perbedaan individual
Sedangkan asas yang bersifat materi linguistik adalalah sebagai berikut:
o   Mudah menuju susah
o   Sederhana menuju kompleks
o   Dekat menuju jauh
o   Pola menuju unsur
o   Penggunaan menuju pengetahuan
o   Masalah bukan kebiasaan
o   Kenyataan bukan buatan
2.      Tujuan Pengajaran Bahasa
Rumusan-rumusan mengenai tujuan pendidikan bahasa dapat dipertimbangkan sebagai berikut:
a)      Pendidikan/pengajaran bahasa Indonesia selain untuk membentuk sikap pribadi manusia pancasilais pada sekolah dasar (SD) adalah agar para siswa dapat bernalar, berkomunikasi, dan menyerap/menyampaikan kebudayaan dalam bahasa Indonesia; pada sekolah menengah (SM) adalah agar siswa dapat bernalar, berinterksi, dan meyerap ilmu dalam bahsa Indonesia; dalam pendidikan tinggi (PT) agar para mahasiswa dapat bernalar dan menyerap serta menyampaikan kebudayaan dalam bahasa Indonesia.
b)      Pendidikan/pengajaran bahasa daerah (BD), didaerah yang memerlukan, pada SD dan SM adalah agar siswa dapat melakukan interaksi dengan menggunakan bahasa tersebut.
c)      Pendidikan/pengajaran bahasa asing (BA), khususnya bahasa inggris, secara nasional pada tingkat SM adalah agar siswa dapat berinteraksi dengan menggunakan bahasa itu; dan pada tingkat perguruan tinggi (PT) agar mahasiswa dapat bernalar, berinteraksi, dan menerima atau menyerap kebudayaan dalam bahasa itu dan juga menyampaikannya.
3.      Pengajaran Bahasa Kedua
    Dalam masyarakat bilingual tentu akan ada pengajaran bahasa kedua (dan mungkin juga ketiga). Bahkkan kedua ini bisa bahasa nasional, bahasa resmi kenegaraan, bahasa resmi kedaerahan, atau juga bahasa asing. Di Indonesia pada umumnya bahasa Indonesia adalah bahasa kedua.
    Pengajaran bahasa kedua tentu menimbulkan masalah-masalah sosiolinguistik. Masalah ini tidak terlalu berat jika kedua bahasa itu masih tergolong bahasa serumpun. Akan terasa berat jika kedua bahasa tersebut tidak serumpun. Pengajaran bahasa kedua di Indonesia secara formal dimulai ketika anak memasuki pendidikan dasar (kira-kira 6 tahun) untuk bahasa nasional, dan ketika anak memasuki pendidikan menengah (kira-kira 13 tahun) untuk bahasa asing.
4.      Pragmatik dan Pengajaran Bahasa
    Kurikulum 1984 memasukkan pragmatik sebagai salah atu pokok bahasan yang harus diberikan dalam pengajaran bahasa. Konsep umum yang bisa ditangkap dari sekian banyak pertuan, mengatakan bahwa pragmatik adalah keterampilan menggunakan bahasa menurut partisipan, topik pembicaraan, tujuan pembicaraan, situasi dan tempat berlangsungnya pembicaraan itu.

BAB 15 PROFIL SOSIOLINGUISTIK DI INDONESIA
1.      Bahasa Indonesia Bahasa Daerah, dan Bahasa Asing
Sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia menjalankan tugas sebagaiberikut:
a)      Lambang kebanggaan nasional
b)      Lambang identitas nasional
c)      Sarana penyatuan bangsa
d)     Sarana perhubungan anatarbudaya dan daerah
Sebagai bahasa kenegaraan bahasa Indonesia bertugas sebagai:
a)      Bahasa resmi kenegaraan
b)      Bahasa pengantar resmi dilembaga pendidikan
c)      Sarana perencanaan dan pelaksanaan pembangunan serta pemerintahan
d)     Sarana pengembangan kebudayaan dan pengembangan ilmu pengetahuan.
Bahasa-bahasa lain yang merupakan bahsa penduduk asli seperti bahasa jawa, bahasa sunda, bahasa bali, bahasa bugis, dan sebagainya. Sedangkan bahasa lain yang buak milik penduduk asli seperti bahasa Arab, Bahasa China, bahasa Inggris, Bahasa Jerman dan lain sebagainya.
2.      Bahasa Indonesia Berasal dari Pijin?
    Dalam studi sosiolinguistik ada satu hal yang menarik mengenar asal usul bahasa Indonesia, yaitu adanya pendapat dari pakar asing yang memiliki reputasi nama internasional bahwa bahasa Indonesia standar berasal dari sebuah pijin yang disebut.Baz aar Malay atau Low Malay. pendapat ini mula-mula dilontarkan oleh seorang sejarawan kenamaan G.M. Kahin dalan bukunya yang berjudul Nationalism and Revoluriott in Indonesia (cornell university press 1952). Kemudian dikemukakan pula oleh seorang sosiolinguis terkenal yang mempunyai keahlian di bidang bahasa pijin dan kreol, yaitu R.A Hall dalam makalahnya berjudur, pidgins and creoles as standard Language yang dimuat dalam Pride dan Holmes, editor, (1976:142-153, cetakan pertama 1972). Pendapat Hall ini banyak diikuti oleh pakar lain seperti Hopper (1972), dan di lndonesia oleh poedjosoedarmo (1978) dan Alwasilah (1985).
    Akhirnya, mengenai pendapat Hall di atas bisa dikatakan kalau benar bahasa lndonesia standar berasal dari pijin Melayu (bahasa Melayu Pasar), maka tentunya dalam bahasa Indonesia sekarang yang diterima adalah bentuk kalimat seperti, "Dia mau kasi itu kain sama dia punya bini"; dan bukannya bentuk "Dia akan memberikan kain itu kepada isterinya".

3.      Pembakuan Bahasa Indonesia
    Apa yang dimaksud dengan bahasa baku dan bagaimana proses pembentukannya telah dibicarakan pada Bab l3 yang lalu. Dalam subbab ini mmasih ingin dikemukakan beberapa masalah yang berkenaan dengan pembakuan bahasa lndonesia.
    Dalam Bab l3 yang lalu telah disebutkan bahwa pembakuan bahasa menyangkut semua aspek atau tataran bahasa, yaitu fonologi, ejaan, morfologi, sintaksis, kosakata, dan peristilahan. Dalam bahasa Irrdonesia ada pembakuan yang sudah diselesaikan, tetapi ada pula yang belum.
    Pembakuan dalam bidang lafal berum pemah dilakukan, padahal dari segi kebahasaan masalah lafal ini sangat penting; dan dari segi sosial politik cukup rawan. Seringkali lafal seseorang dari daerah tertentu menjadi bahan olok-olokan dari penutur bahasa Indonesia dari daerah lainnya. Hingga kini dalam pertuturan bahasa lndonesia kita dapat mendengar aneka warna ucapan dan kita dapat mengetahui seseorang itu berasal dari berdasarkan lafalnya. Mengenai lafal yang berbeda-beda ini ada ciri seorang anak Indonesia kelahiran Jakarta yang mengikuti program pertukaran pelajar ke jepang. Selama di Jepang dia ditemani oleh seorang (mahasiswi Jepang) yang pemah mengikuti prograrn yang sama dan tinggal di Jember, Jawa Timur, Indonesia. Si mentor ini merasa heran karena bahasa Indonesia (tepatrya lafalnya) yang dikuasai dan dipelajari slama di Indonesia tidak sama dengan  yang digunakan pelajar dariari Jakarta yang  kini dibimbingnya. Cerita si anak Jakarta itu, bahasa Indonesia si mentornya persis seperti bahasa Indonesianya pelawak Kadir dan Bu Bariyah.
    Pembakuan dalam bidang gramatika, mencakup morfologi dan sintaksis, telah dilakukan, yakni dengan terbitnya buku Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia tahun 1988, dan yang pada tahun 1993 terah pula diterbitkan revisinya. Sayangnya masih banyak sekali pakar dan guru bahasa Indonesia yang masih merasa kurang "pas" dengan buku tersebut. Banyak masalah yang muncul dari buku tersebut untuk bisa dipersoalkan. Sebetulnya yang dibutuhkan masyarakat bukanlah sebuah buku tata bahasa baku yang teoretis, melainkan sebuah buku tata bahasa baku yang praktis yang mudah diikuti untuk dijadikan pedoman dalam berbahasa Indonesia yang baik dan benar. oleh karena itu, barangkali, berdasarkan buku tata bahasa baku yang ada itu, dapat dibuat sebuah buku tata bahasa yang lain, yang dengan mudah dapat menjadi pedoman bagi masyarakat. Memang kita sadarijuga bahwa kaidah-kardah tata bahasa itu tidak selamanya tetap; namun, adanya ketetapan sangat diperlukan dalam pembinaan dan pembakuan bahasa.
    Pembakuan dalam bidang kosakata dan istilah sudah dan sedang berjalan. Pengembangan, pemekaran, dan pembakuan kosakata memang ticlak bisa berhenti pada satu titik, sebab seperti kita lihat dari Bab 9, perubahan kosakata dalam setiap bahasa hampir dapat dikatakan bisa terjadi sepanjang waktu. Terbitnya Kamus Besar Bahasa Indonesia (l988, edisi II 1993) merupakan satu tonggak yang sangat penting dalam upaya pembakuan dan pemekaran kosakata bahasa Indonesia.

4.      Pengajaran Bahasa Indonesia
Dalam pengajaran pendidikan formal, pendidikan bahasa Indonesia mempunyai dua muka, pertama sebagai bahasa pengantar di dalam pendidikan dan kedua sebagai mata pelajaran yang harus dipelajari.
5.      Sikap dan Kemampuan Berbahasa
Secara nasional kedudukan bahasa Indonesia adalah pada tingkat pertama bahasa daerah adalah pada tingkat kedua dan bahasa asing pada tingkat ketiga. Tetapi bagi sebagian besar orang Indonesia dilihat dari segi emosional, keakraban, dan perolehan, bahasa daerah menduduki tingkat pertama; bahasa Indonesia nrenduduki tempat kedua, dan bahasa asing ada pada tingkat ketiga. Lalu, sikap terhadap ketiga bahasa itu pun tidak ditentukan oleh urutan kedudukan ketiga bahasa itu secara nasional melainkan menurut segi emosional, keakrab dan perolehan. Jadi, bahasa daerah  mendapat perhatian pertama, bahasa Indonesia yang kedua, dan bahasa asing yang ketiga. Oleh karena itu, sebagai akibat dari sikap itu, bahasa darah (yang memang dikuasai  dun digunakan sejak kecil ) akan digunakan sebaik mungkin kalau perlu tanpa kesalahan.
    Sikap terhadap bahasa Indonesia seperti kurangnya minat untuk mempelajarinya akan  memberi dampak yang kurang baik terhadap kemampuan berbahasa Indonesia di kalagan banyak orang lndonesia baik dari lapisan bawah, menengah,dan atas bahkan juga pada lapisan intetektual. Kurangnya kemampuan berbahasa Indonesia padd anggota masyarakat kelas bawah dan menengah bisa dimengerti sebab mereka pada umumnya tidak pemah secara formal ntendapat pendidikan bahasa lndonesia atau kalau pun dapat tentulah dalam porsi yang tidak cukup. Tetapi kurangnya kemampuan berbahasa lndonesia pada golongan atas dan kelompok intelektual adalah sangat tidak biasa sebab mereka rata-rata mendapat pendidikan yang cukup. Apalagi untuk kelompok intelektual. Karena itu, kalau dicari sebabnya mengapa mereka kurang mampu berbahasa Indonesia, tentu adalah pada alasan sikap yang meremehkan dan kurang menghargai serta tidak punya rasa bangga terhadap bahasa lndonesia.




KOMENTAR PENULIS LAPORAN

            Menurut saya buku ini memiliki materi yang sangat baik. Hal ini dapat dilihat dari segi isinya yang banyak sekali mengutip beberapa pendapat para ahli dan disertai dengan kesimpulan dari beberapa teori yang disampaikan. Penulis buku ini juga memberikan pandangan dan kesimpulannya setelah mengetengahkan beberapa pendapat para ahli tersebut.
            Penyampaian materi dan bahasa yang digunakan juga sangat mudah dipahami. Penulis buku ini menyampaikan materi yang ada dengan sistematis sehingga pembaca mudah memahami materi yang disampaikan.
            Jika dibandingkan dengan buku lain dengan judul yang sama seperti buku SOSIOLINGUISTIK karangan Prof. Dr. Sumarsono, M. Ed, buku karangan Abdul Chaer dan Leonie Agstina ini lebih mudah dipahami. Materi yang disampaikan juga lebih lengkap dan didukung oleh beberapa teori yang berhubungan.
Bukti:
            Pada sub bab 3.4 Bahasa Dan Tingkatan Sosial Masyarakat halaman 38 buku karangan Abdul Chaer dan Leonie Agstina mengetengahkan teori William Labov (tentang lapisan sosial bahasa Inggris di kota New York) dengan lengkap disertai dengan tabel pendukung dan grafik penelitian William Labov tersebut. Tetapi hal ini tidak dijumpai dalam buku SOSIOLINGUISTIK karangan Prof. Dr. Sumarsono, M. Ed. Beliau hanya menjelaskan tentang teori Labov tanpa disertai dengan tabel hasil pengamatan dan grafik pengamatan ahli tersebut.
            Begitu juga pada bab/sub bab yang lainnya, dalam buku karangan Abdul Chaer dan Leonie Agstina lebih menjelaskan secara rinci tentang materi yang disampaikan, lengkap dengan teori pendukung serta kesimpulan dan pandangan penulisnya.


PENUTUP

            Dari hasil penilaian saya, buku ini sudah memiliki standar yang sangat baik. Bukan hanya Materinya yang disampaikan dan dijelaskan dengan rinci dan sistematis tetapi buku ini juga disampaikan dengan bahasa yang mudah untuk dipahami.
            Buku ini sangat cocok dipakai oleh kalangan siswa, mahasiswa dan umum untuk menambah wawasan tentang bagaimana  memahami hubungan antara bahasa dengan faktor-faktor sosial di dalam suatu masyarakat tutur.









Tidak ada komentar:

Poskan Komentar